Berpolitik dengan “Janda”

oleh -63 views

OPINI- Pertama-tama, bahwa harus digarisbawahi ujaran judul di atas bukanlah sebuah cap untuk merendahkan kaum perempuan. Yang ingin ditekankan dalam opini ini adalah sudut pandang penulis terhadap politikus yang suka mengumbar janji tetapi minimoperasionalisasi. Janji
yang tidak rasional dan umum di sampaikan di tahun politik.

Lebih lanjut, pengujaran “janda” dalam tataran yang di sampaikan penulis ini, perlu mendapat batasan eksplanasinya. “janda” merupakan ungkapan singkatan dari janji beda yang menandaskan makna , ide atau gagasan berpikir yang kreatif, rasional dan terukur. Berbeda dari kebanyakan politisi. Sehingga makna “janda” dalam tulisan kami ini dapat di pahami.

Arti janji dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah ucapan yang menyatakan kesediaan dan kesanggupan untuk berbuat (seperti hendak memberi, menolong, datang, bertemu).

Tahun politik tentu para politisi akan menyampaikan janji dalam visi dan misi mereka sebagai gambaran apa yang akan dilakukan jika terpilih.

Paul B. Kleden mengatakan bahwa, “Politik tanpa janji adalah politik yang buruk.” Ada dua arti penting janji politik. Pertama, mencerminkan visi dan misi seorang calon politisi yang akan memberikan arah dan panduan yang jelas bagi dirinya dalam mencapai sasaran yang hendak diraih bila kelak diberi amanah menduduki jabatan publik.

Kemudian kedua bahwa janji politik sebagai dasar bagi pertanggungjawaban pelaksanaan kekuasaan yang demokratis saat menjabat. Tanpa janji, seorang calon pemimpin akan sangat sulit untuk dinilai berhasil tidaknya atas kepemimpinannya kelak yang di jalankan.

Kali ini di tahun politik, Redaksi mengajak pembaca untuk melihat politisi yang memberikan janji beda “janda” dengan visi misi yang di gagas terukur, rasional dan kreatif.

Janji beda “janda” juga akan menggambarkan kecerdasan berpikir seorang politisi, tetapi tidak hanya retorika saja, melainkan punya rekam jejak pendukung. Rekam jejak dalam perjalanan karir dibidang apapun, jika mereka adalah politisi baru ataupun politisi muda.

Saat ini, Perkembangan pesat majunya teknologi informasi (digital), memungkinkan terjadinya perubahan mendasar pada pola komunikasi, interaksi juga transaksi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Sehingga politisi harusnya mampu menghadirkan ide komunikasi yang memanfaatkan digital. Berkomunikasi dengan tehnologi, dan mudah menjawab keluhan warga yang terkadang di sampaikan lewat media sosial, dapat menjadi salah satu janji beda seorang politisi.

Di Morowali Utara contoh simpelnya, saat di gelar pelantikan pejabat di siarkan secara langsung bisa di akses melalui android untuk warga menonton. Ini adalah upaya penggunaan tehnologi yang bagus. Tetapi fakta lainnya masyarakat keluhkan susahnya berkomunikasi dengan pemimpin di Morut melalui Handphone. Curahan hati warga terkait pelayanan di daerah sering ditumpahkan melalui media sosial, tetapi oknum pejabat yang di soroti dan pemimpin seolah menutup telinganya untuk menjawab. Contoh kongkritnya adalah kasus bayi umur 8 bulan yang tidak ada penjelasan terbuka oleh Pemerintah daerah atas hasil evaluasi. Hal ini menjadi catatan penting bagi publik.

Realitas yang disebut sebagai disrupsi, karena secara fundamental mengubah semua sistem, tatanan, dan landscape yang ada ke cara-cara baru. Mendesak lahirnya berbagai inovasi dan kreativitas seorang politisi. Respek terhadap koreksi yang di sampaikan melalui media sosial oleh warga. Dan bisa membedakan yang mana sebuah kritikan, yang harus diterima sebagai kontrol atas kebijakan.

Maka memilih pemimpin yang punya janji berbeda “janda” penting bagi publik. Sebab kemajuan tehnologi dan upaya mendapatkan pelayanan yang baik harus terus dibenahi untuk mewujudkan daerah yang maju.